Jumat, 18 Juli 2014

Pengakjian Pada Pasien Sindrom Nefrotik

Penkajian Pada Pasien Sindrom Nefrotik

Pengkajian Anamnesis

Keluhan utama yang sering dikeluhkan wajah dan kaki. Pada pengkajian riwayat kesehatan sekarang, perawat menanyakan hal berikut:
1.      Kaji berapa lama keluhan adanya perubahan urine output.
2.      Kaji onset keluhan bengkak pada wajah atau kaki apakah disertai dengan adanya keluhan pusing dan cepat lelah.
3.      Kaji adanya anoreksia pada klien.
4.      Kaji adanya keluhan sakit kepala dan malaise.
Pada pengkajian riwayat kesehatan dahulu, perawat perlu mengkaji apakah klien pernah menderita penyakit edema, apakah ada riwayat dirawat dengan penyakit diabetes melitus dan penyakit hipertensi pada masa sebelumnya. Penting dikaji tentang riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat alergi terhadap jenis obat dan dokumentasikan.
Pada pengkajian psikososiokultural, adanya kelemahan fisik, wajah, dan kaki yang bengkak akan memberikan dampak rasa cemas dan koping yang maladaptif pada klien.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum klien lemah dan terlihat sakit berat dengan tingkat kesadaran biasanya compos mentis. Pada TTV sering tidak didapatkan adanya perubahan.
B1 (Breathing). Biasanya tidak didapatkan adanya gangguan pola napas dan jalan napas walau secara frekuensi mengalami peningkatan terutama pada fase akut. Pada fase lanjut sering didapatkan adanya gangguan pola napas dan jalan napas yang merupakan respons terhadap edema pulmoner dan efusi pleura.
B2 (Blood). Sering ditemukan penurunan curah jantung respons sekunder dari peningkatan beban volume.
B3 (Brain). Didapatkan edema wajah terutama periorbital, sklera tidak ikterik. Status neurologis mengalami peruahan sesuai dengan tingkat parahnya azotemia pada sistem saraf pusat.
B4 (Bladder). Perubahan warna urine output seperti warna urine berawarna kola.
B5 (Bowel). Didapatkan adanya mual dan muntah, anoreksia sehingga sering didapatkan penurunan intake dari kebutuhan. Didapatkan asites pada abdomen.
B6 (Bone). Didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum, efek sekunder dari edema tungkai dari keletihan fisik secara umum.

Pengkajian Diagnostik
Urinalis didapatkan hematuria secara mikroskopik, proteinuria, terutama albumin. Keadaan ini juga terjadi akibat meningkatnya permeabilitas membran glomerulus.
Pengkajian Penatanalaksanaan Medis
Tujuan terapi adalah mencegah terjadinya kerusakan ginjal lebih lanjut dan menurunkan risiko komplikasi. Untuk mencapai tujuan terapi, maka penatalaksaan tersebut meliputi hal-hal berikut:
1.      Tirah baring.
2.      Diuretik.
3.      Adenokortikosteroid, golongan prednison.
4.      Diet rendah natrium tinggi protein.
5.      Terapi cairan. Jika klien dirawat di rumah sakit, maka intake dan output diukur secara cermat dan dicatat. Cairan diberikan untuk mengatasi kehilangan cairan dan berat badan harian.
Diagnosa Keperawatan
1.      Aktual/risiko kelebihan volume cairan b.d. penurunan volume urine, retensi cairan dan natrium.
2.      Keridakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. intake nutrisi yang tidak adekuat efek sekunder dari anoreksia, mula, muntah.
3.      Gangguan Activity Daily iving (ADL) b.d. edema ekstremitas, kelemahan fisik secara umum.
4.      Kecemasan b.d. prognosis penyakit, ancaman, kondisi sakit, dan perubahan kesehatan.
Rencana Keperawatan
Intervensi yang dilakukan bertujuan menurunkan keluhan klien, menghindari penurunan dari fungsi ginjal serta menurunkan risiko komplikasi.
            Untuk intervensi pada masalah keperawatan ketidakseimbanagan nutrisi kurang dari kebutuhan, gangguan ADL dan kecemasan, intervensi dapat disesuaikan dengan masalah yang sama pada pasien glomerulus nefritis akut.
Aktual/risiko tinggi terhadap kelebihan volume cairan b.d. penurunan volume urine, retensi cairan dan natrium.
Tujuan: Dalam waktu 1x24 jam tidak kelebihan volume cairan sistemik.
Kriteria evaluasi:
·         Penurunan keluhan sesak napas, edema ekstremitas berkurang.
·         Produksi urine >600 ml/hr.
Intervensi
Rasional
Kaji adanya edema ekstremitas.
Kecurigaan gagal kongestif/kelebihan volume cairan.
Istirahatkan/tirah baring klien pada saat edema masih terjadi.
Menjaga klien dalam keadaan tirah baring selama beberapa hari mungkin diperlukan untuk meningkatkan diuresis guna mengurangi edema.
Kaji tekanan darah
Sebagai salah satu cara untuk mengetahui peningkatan cairan yang dapat diketahui dengan menigkatkan beban kerja jantng yang dapat diketahui dari meningkatnya tekanan darah.
Ukur intake dan output.
Penurunan curah jantung, mengakibatkan gangguan perfusi ginjal, retensi natrium/air, dan penurunan urine output.
Timbang berat badan.
Perubahan tiba-tiba dari berat badan menunjukkan gangguan keseimbangan cairan.
Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal/maskaer sesuai dengan indikasi.
Meningkatkan sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard untuk melawan efek hipoksia/iskemia.
Kolaborasi:
·         Berikan diet tanpa garam.

·         Berikan diet tinggi protein tinggi kalori.



·         Berikan diuretik, contoh: Furosemide, Sprinolakton, Hidronolakton.

·         Adenokortikosteroid, golongan prednison.


·         Pantau data laboratorium elektrolit kalium.


Natrium meningkatkan retensi cairan dan meningkatkan volume plasma.
Diet rendah protein untuk menurunkan insufisiensi renal dan retensi nitrogen yang akan menigkatkan BUN. Diet tinggi kalori untuk cadangan energi dan mengurangi katabolisme protein.
Diuretik bertujuan untuk menurunkan volume plasma dan menurunkan retensi cairan di jaringan sehingga menurunkan risiko terjadinya edema paru.
Adenokotikosteroid, golongan prednison digunakan untuk menurunkn proteinuria.


Pasien yang mendapatkan terapi diuretik mempunyai risiko terjadi hipokalemia sehingga perlu dipantau.
Evaluasi
Setelah mendapatkan intervensi keperawatan, maka pasien dengan sindrom nefrotik diharapkan sebagai berikut:
1.      Kelebihan volume cairan dapat teratasi.
2.      Meningkatnya asupan nutrisi.
3.      Peningkatan kemampuan aktivitas sehari-hari.

4.      Penurunan kecemasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar