Jumat, 18 Juli 2014

Asuhan Keperawatan Sistem Muskuloskeletal Ostemalasia

BAB I
PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang
Sebagaimana diketahui salah satu mineral utama penyusun tulang adalah kalsium. Kurangnya konsumsi kalsium akan mengakibatkan berkurangnya kalsium yang terdapat pada tulang, sehingga lama kelamaan akan terjadi perubahan pada mikroarstektur tulang dan tulang menjadi lunak, akibatnya tulang menjadi kehilangan kepadatan dan kekuatannya, sehingga mudah retak/patah.
Osteomalasia ialah perubahan patologik berupa hilangnya mineralisasi tulang yang disebabkan berkurangnya kadar kalsium fosfat sampai tingkat di bawah kadar yang diperlukan untuk mineralisasi matriks tulang normal, hasil akhirnya ialah rasio antara mineral tulang dengan matriks tulang berkurang.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan osteomalasia. Kekurangan kalsium dan vitamin D terutama dimasa kecil dan remaja saat di mana terjadi pembentukan massa tulang yang maksimal, merupakan penyebab utama osteomalasia. Konsumsi kalsium yang rendah atau menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium yang umumnya terjadi pada dewasa dapat menyebabkan osteomalasia, selain itu ganguan pada sindroma malabsorbsi usus, penyakit hati, gagal ginjal kronis dapat juga menyebabkan terjadinya Osteomalasia.
Terjadinya Osteomalasia merupakan rangkaian awal terjadinya osteoporosis. pada saat sekarang ini angka kejadian tersebut sangat meningkat tajam baik pada anak-anak, dewasa atau pun orang tua.

B. Tujuan
            Untuk memenuhi tugas perkuliahan dari mata kuliah Asuhan Keperawatan Muskuloskeletal, dan dapat mengetahui lebih dalam konsep penyakit Osteomalasia serta Konsep Asuhan Keparawatannya secara teori.
BAB II
PEMBAHASAN


1.         Konsep Penyakit Osteomalasia
A.        Anatomi dan Fisiologi Sistem Muskuloskeletal
            Skelet atau kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan melindungi beberapa organ lunak, terutama dalam tengkorak dan panggul. Kerangka juga berfungsi sebagai alat ungkit pada gerakan dan menyediakan permukaan untuk kaitan otot-otot kerangka.
Anatomi sistem skelet ada 206 tulang dalam tubuh manusia, yang terbagi dalam kategori tulang panjang, tulang pendek, tulang pipih dan tulang tak teratur. Bentuk dan kontriksi tulang tertentu ditentukan oleh fungsi dan gaya yang bekerja padanya.
            Tulang-tulang kerangka diklasifikasikan sesuai dengan bentuk dan formasinya, yaitu:
1)        Tulang panjang atau tulang pipa terutama dijumpai dalam anggota gerak. Setiap tulang panjang terdiri atas bagian batang dan dua bagian ujung. Tulang pipa bekerja sebagai alat ungkit tubuh dan memungkinkannya bergerak.
2)        Tulang pendek. Contoh yang baik dapat dilihat pada tulang-tulang karpalia di tangan dan tarsalia di kaki. Tulang-tulang itu sebagian besar dari jaringan tulang jarang karena memerlukan sifat yang ringan dan kuat, tulang-tulang ini diselubungi jaringan padat tipis. Karena kuatnya, tulang pendek mampu mendukung seperti tampak pada pergelangan tangan.
3)        Tulang pipih terdiri atas dua lapisan jaringan tulang keras dengan di tengahnya lapisan tulang seperti spons. Tulang ini dijumpai di tempat yag memerlukan perlindungan, seperti pada tulang tengkorak, tulang inominata tulang panggul atau koksa, iga-iga, dan skapula (tulang belikat). Tulang pipih menyediakan permukaan luas untuk kaitan otot-otot, misalnya skapula.
4)        Tulang tak beraturan tidak dapat dimasukkan dalam salah satu dari ketiga kelas tadi. Contoh tulang tak beraturan adalah veterbrata dan tulang wajah.
5)        Tulang sesamoid termasuk kelompok lain. Tulang ini berkembang dalam tendon otot-otot dan dijumpai di dekat sendi. Patela adalah contoh yang terbesar jenis ini.

B.        Definisi Osteomalasia
            Osteomalasia berasal dari bahasa Yunani yaitu osteomalacia yang artinya adalah mineralisasi osteoid yang tidak adekuat atau terlambat pada tulang spongiosa atau korteks dewasa.
Osteomalasia ialah perubahan patologik berupa hilangnya mineralisasi tulang yang disebabkan berkurangnya kadar kalsium fosfat sampai tingkat di bawah kadar yang diperlukan untuk mineralisasi matriks tulang normal, hasil akhirnya ialah rasio antara mineral tulang dengan matriks tulang berkurang.
            Kondisi osteomalasia merupakan penyakit tulang yang dikarakteristikkan oleh kurangnya mineral dari tulang (menyerupai penyakit yang menyerang anak-anak yang disebut rakhitis) pada orang dewasa. Osteomalasia berlangsung kronis dan terjadi deformitas skeletal, terjadi tidak separah dengan yang menyerang anak-anak karena pada orang dewasa pertumbuhan tulang sudah lengkap (komplet).
            Osteomalasia adalah manifetasi defisiensi vitamin D. Perubahan mendasar pada penyakit ini adalah gangguan mineralisasi tualng, disertai meningkatnya osteoid yang tidak mengalami mineralisasi. Hal ini bertolak belakang dengan osteoporosis meskipun massa tulan total berkurang, kandungan mneral di tulang yang ada masih normal.



C.        Etiologi
            Beberapa predisposisi yang bisa menyebabkan kondisi osteomalasia adalah sebagai berikut:
1)        Defisiensi vitamin D.
2)        Malabsorpsi.
3)        Tidak adekuatnya pajanan sinar matahari.
4)        Hipokalsemia.
5)        Penyakit Ginjal.

D.        Manifestasi Klinis
            Secara umum terdapat sepuluh anda utama dari klinis osteomalasia yaitu sebagai berikut:
1)        Lemahnya tulang.
2)        Nyeri tulang.
3)        Nyeri tulang spina.
4)        Nyeri tulang pelvis.
5)        Nyeri tulang panjang.
6)        Kelemahan otot.
7)        Hipokalsemia.
8)        Tulang vertebra mengalami tekanan.
9)        Pendataran pelvis.
10)    Fraktur, baik jumlah dan mudahnya patah tulang.

E.         Patofisiologi
            Ada berbagai macam penyebab dari osteomalasia yang umumnya menyebabkan gangguan metabolisme mineral. Faktor yang berbahaya untuk perkembangan osteomalasia di antaranya kesalahan diet, malabsorpsi, gastrektomi, gagal ginjal kronik, terapi antikonvulsan jangka lama (phenyton, phenobarbital), dan insufisiensi vitamin D (diet, sinar matahari).
            Tipe malnutrisi (defisiensi vitamin D sering digolongkan dalam hal kekurangan kalsium) terutama gangguan fungsi menuju kerusakan, tetapi faktor makanan dan kurangnya pengetahuan tentang nutrisi di mana kandungan vitamin D dalam makanan kurang dan adanya kesalahan diet, serta kurangnya sinar matahari.
            Osteomalasia kemungkinan terjadi sebagai akibat dari kegagalan dari absorpsi kalsium atau kekurangan kalsium dari tubuh. Gangguan gastroinstestinal di mana kurangnya absorpsi lemak juga dapat menyebabkan osteomalasia. Kurangnya absorpsi lemak merupakan kekurangan lain selain vitamin D (semua vitamin yang larut dalam lemak) dan kalsium yang dapat mengakibatkan osteomalasia. Ekskresi yang paling terakhir terdapat dalam feses bercampur dengan asam lemak (faty acid). Sebagai contoh dapat terjadi gangguan di antaranya celiac disease, obstruksi sistem pencernaan kronik, pankreatitis kronis, dan reseksi perut yang kecil.
            Penayakit hati dan ginjal dapat menyebabkan kekurangan vitamin D, tetapi di sisi lain organ-organ tersebut dapat mengubah viatamin D ke dalam bentuk aktif. Terakhir, hiperparatiroid menunjang terjadinya kekurangan pembentukan kalsium, dengan demikian osteomalasia menyebabkan kenaikan ekskresi fosfat dalam urine.

G. Pemeriksaan Diagnostik
1)        Laboratorium. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan lambatnya rata-rata serum kalsium dan jumlah fosfor, serta kurangnya kenaikan alkaline fosfat. Ekskresi urine kalsium dan kreatinin lambat.G.        Pemeriksaan Diagnostik
2)        Radiologis. Pada foto polos didapatkan adanya osteosklerosis dan erosi pada periosteum. Kondisi kondrokalsinosis bisa terjadi di dalam fibrokartilage atau tulang rawan hialin dan paling sering terjadi di daerah lutut.

H.        Penatalaksanaan Medis
            Penatalaksanaan yang optimal pada pasien dengan osteomalasia, meliputi hal-hal sebagai berikut:
1)        Pemberian vitamin D, baik secara suplemen dan diet tinggi vitamin D.
2)        Diet tinggi kalsium dan fosfat.
3)        Pengobatan bila tejadi hipokalsemia.
4)        Peningkatan pajanan sinar matahari.
5)        Peninjauan ulang pemberian obat yang bisa mengakselerasi vitamin D, seperti dilantin, rifampisin, phenobarbitol.
Seperti pada rakitis, penyebab dasar osteomalasia harus dikoreksi sedapat mungkin. Pada osteomalasia akibat defisiensi vitamin D, pemberian vitamin D dan diet tinggi kalsium biasanya akan memperbaiki kalsifikasi matriks organik dan karenanya mengakibatkan penyembuhan pseudofraktur serta penguatan tulang. Osteomalasia bentuk hipofosfatemik mungkin memerlukan pengobatan dengan fosfat dan 1,25-dihidroksi vitamin D. Pada osteomalasia yang resisten terhadap vitamin D juga dapat diberikan 1,25-dihidroksi vitamin D. Deformitas residual yang terjadi dapat dikoreksi dengan osteotomi.





2.         Konsep Asuhan Keperawatan Secara Teoritis
A.        Pengkajian

Identitas klien.

Riwayat Kesehatan.
·         RKS
Ø  Pasien mengeluh nyeri tulang
Ø  Ekstremitas disertai nyeri tekan
Ø  Kelemahan otot
Ø  Cara jalan bebek atau pincang.
·         RKD
Ø  Kemungkinan klien pernah Malabsorbsi.
Ø  Kekurangan calsium dalam diet.
Ø  Klien pernah mengalami gagal ginjal kronik.
Ø  Klien pernah mengalami gangguan hati
·         RKK
Ø  Orangtua klien pernah mengalami osteomalasia

Pemeriksaan Fisik
                  Inspeksi, observasi gaya jalan, postur, cara berdiri, posisi duduk mulai pada saat pasien memasuki ruangan. Perhatikan kesimetrisan ekstremitas tubuh, adanya deformitas kasar, genu valgum, lordosis, kifosis, serta adanya kelemahan atau atropi otot-otot skelet.
                  Pada pemeriksaan fisik pasien osteomalasia didapatkan deformitas skelet. Deformitas vertebra dan deformitas lengkungan tulang panjang membuat penampakan pasien menjadi tidak normal dan jalannya membebek. Dapat terjadi kelemahan / atropi otot, serta rasa tidak nyaman dengan penampilan mereka.
   Palpasi tulang, sendi, dan otot mengenai pembengkakan, nyeri tekan, perubahan suhu lokal, ataupun adanya krepitasi.
                  Pasien osteomalasia biasanya mengeluh nyeri tulang umum pada  punggung bawah dan ekstremitas disertai dengan nyeri tekan.

Data dasar Pengkajian
·         Aktivitas / istirahat
Tanda: keterbatasan fungsi pada bagian yang terkena, nyeri.
·         Sirkulasi
Tanda: takikardia (Respon stress).
·         Neurosensori
Gejala: hilang gerakan .
Tanda: Deformitas lokal, kelemahan.
·         Nyeri / Kenyamanan
Gejala : nyeri tekan

B.        Diagnosa
1.      Nyeri kronis b.d. pelunakan tulang.
2.      Gangguan mobilitas fisik b.d. pelunakan tulang.
3.      Gangguan body image b.d.perubahan bentuk tubuh.
4.      Resti cedera b.d. gangguan muskuloskeletal.

C.        Intervensi
1.      Nyeri kronis b.d. pelunakan tulang.
Tujuan: Setelah diberi tindakan selama 2 x 60 menit nyeri berkurang.
Kriteria Hasil:
a.       Klien mengatakan nyeri hilang dan terkontrol.
b.      Klien tampak rileks, tidak meringis, dan mampu istirahat/tidur dengan tepat.
c.       Tampak memahami nyeri akut dan metode untuk menghilangkannya.
d.      Skala nyeri 0-2.
Intervensi
Rasional
Catat dan kaji lokasi dan intensitas nyeri (skala 0-10). Selidiki perubahan karakteristik nyeri.
Untuk mengetahui respon dan sejauh mana tingkat nyeri pasien.
Berikan tindakan kenyamanan (contoh ubah posisi sering, pijatan lembut).
Mencegah pergeseran tulang dan penekanan pada jaringan yang luka.
Berikan lingkungan yang tenang.
Agar pasien dapat beristirahat dan mencegah timbulnya stress.
Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian analgetik, kaji efektifitas dari tindakan penurunan rasa nyeri.
Untuk mengurangi rasa sakit / nyeri.
Kolaborasi dengan ilmu gizi tentang asupan nutrisi pasien dengan pemberian vitamin D.
Pemberian vitamin D membantu untuk perbaikan tulang.

2.      Gangguan mobilitas fisik b.d. pelunakan tulang.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam masalah gangguan mobilitas fisik mulai membaik.
Kriteria Hasil:
a.       Menunjukkan tingkat mobilitas di tandai dengan indikator berikut (sebutkan nilainya 1-5 {ketergantungan tidak berpartisipasi} membutuhkan bantuan orang lain dan alat, mandiri dengan alat bantu, atau mandiri penuh).
b.      Menunjukkan penggunaan alat bantu secara benar dengan pengawasan.
c.       Melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Intervensi
Rasional
Pantau kebutuhan akan bantuan pelayanan kesehatan dirumah dan kebutuhan akan peralatan pengobatan yang tahan lama.
Membantu menentukan intervensi yang akan dilakukan.
Ajarkan pasien tentang dan pantau penggunaan alat bantu mobilitas (misalnya: tongkat, walker, kruk, atau kursi roda)
Membantu perawatan diri dan memandirikan pasien tehnik pemindahan yang tepat mencegah abrasikulit dan jatuh.
Pantau kebutuhan pasien akan pendidikan kesehatan.
Untuk menentukan tindakan yang dibutuhkan oleh pasien.

3.      Gangguan body image b.d.perubahan bentuk tubuh.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam masalah gangguan body image teratasi.
Kriteria Hasil:
a.       Pasien dapat menerima keadaan tubuhnya secara proporsional.
b.      Pasien dapat beradaptasi dengan keadaan tubuhnya.
Intervensi
Rasional
Binalah hubungan saling percaya.
Dasar mengembangkan tindakan keperawatan.
Kajilah penyebab gangguan citra tubuh.
Merencanakan intervensi lebih lanjut.
Eksplorasi aktivitas baru yang dapat dilakukan.
Memfasilitasi dengan memanfaatkan kelebihan.
Perhatikan perilaku menarik diri, membicarakan diri tentang hal negatif, penggunaan penyangkalan atau terus menerus melihat perubahan nyata atau yang diterima.
Mengidentifikasi tahap berduka atau kebutuhan untuk intervensi.
Dorong ekspresi ketakutan; perasaan negatif, dan kehilangan bagian tubuh.
Ekspresi emosi membantu pasien mulai menerima kenyataan dan realitas hidup tanpa tungkai.


4.      Resti cidera b.d. gangguan muskuloskeletal.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam masalah resiko tinggi cidera teratasi.
Kriteria Hasil: Tidak terjadi cidera.
Intervensi
Rasional
Hindari perilaku yang beresiko tinggi terhadap pasien seperti aktifitas yang berat.
Agar tidak terjadi cidera terhadap pasien.
Pasang pengaman di tempat tidur pasien.
Untuk menghindari terjadi jatuh terhadap pasiaen.
Anjurkan kepada pasien agar menggunakan sandal yang tidak licin saat ke kamar mandi atau mobilitas.
Penggunaan sandal yang licin atau tanpa sandal mengakibatkan pasien terjatuh.
Anjurkan keluarga selalu mendampingi atau membantu setiap aktifitas pasien.
Agar meminimalisir resiko cidera terhadap pasien.


BAB III
PENUTUP

A.        Kesimpulan
Skelet atau kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan melindungi beberapa organ lunak, terutama dalam tengkorak dan panggul. Kerangka juga berfungsi sebagai alat ungkit pada gerakan dan menyediakan permukaan untuk kaitan otot-otot kerangka.
Osteomalasia berasal dari bahasa Yunani yaitu osteomalacia yang artinya adalah mineralisasi osteoid yang tidak adekuat atau terlambat pada tulang spongiosa atau korteks dewasa.
Osteomalasia ialah perubahan patologik berupa hilangnya mineralisasi tulang yang disebabkan berkurangnya kadar kalsium fosfat sampai tingkat di bawah kadar yang diperlukan untuk mineralisasi matriks tulang normal, hasil akhirnya ialah rasio antara mineral tulang dengan matriks tulang berkurang.
Beberapa predisposisi yang bisa menyebabkan kondisi osteomalasia adalah sebagai berikut:
1)      Defisiensi vitamin D.
2)        Malabsorpsi.
3)        Tidak adekuatnya pajanan sinar matahari.
4)        Hipokalsemia.
5)        Penyakit Ginjal.


B.        Saran

            Sebagai Mahasiswa Ilmu Keperawatan, sangatlah penting untuk memahami konsep penyakit dan Asuhan Keparawatan Secara Teoritis.



Helmi, Zairin. 2012. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta: Salemba Medika.
Pearce, Evelyn. 2010. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Robbins. 2004. Buku Ajar Patologi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Sjamsuhidajat. 2007. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar