BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Orang lazim menyebut Diabetes Melitus sebagai
penyakit gula atau kencing manis. Diabetes mellitus atau penyakit gula atau
kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang
melebihi normal (hiperglikemia) akibat tubuh kekurangan insulin baik absolut
maupun relatif. Absolut berarti tidak ada insulin sama sekali
sedangkan relatif berarti jumlahnya cukup/memang sedikit tinggi atau daya
kerjanya kurang. Hormon Insulin dibuat dalam pancreas.
Diabetes Mellitus (DM) merupakan
salah satu masalah kesehatan yang berdampak
pada produktivitas dan dapat menurunkan Sumber Daya Manusia. Penyakit ini tidak
hanya berpengaruh secara individu, tetapi sistem kesehatan suatu
negara.
Seseorang dikatakan menderita Diabetes
jika kadar glukosa dalam darahnya di atas 120mg/dl (dalam kondisi berpuasa) dan
di atas 200mg/dl (dua jam setelah makan). Tanda utama lain seseorang menderita
Diabetes adalah air seninya mengandung gula. Karena itu,penyakit ini di sebut
juga kencing manis atau penyakit gula. Penderita Diabetes disebut Diabetesi.
Penderita
penyakit diabetes mellitus dapat meninggal karena penyakit yang dideritanya
atau karena komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit ini, misalnya penyakit
ginjal, gangguan jantung dan gangguan saraf. Penyebab diabetes mellitus dapat
disebabkan oleh berbagai hal, dan juga terdapat berbagai macam tipe diabetes
mellitus. Ada beberapa gejala yang ditiimbulkan bagi penderita diabetes
mellitus, serta cara mengobatinya. Kesemuanya akan dibahas di dalam makalah
ini.
B. TUJUAN
Pembuatan makalah ini bertujuan
untuk mengetahui lebih dalam tentang penyakit Diabets Melitus, dan untuk memenuhi
tugas mata kuliah Asuhan Keperawatan Sistem Endokrin.
BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI
DIABETES MELITUS
Diabetes adalah kata Yunani
yang berarti mengalirkan/mengalihkan (siphon).
Mellitus adalah kata Latin
untuk madu, atau gula. Diabetes mellitus adalah penyakit di mana seseorang
mengeluarkan/mengalirkan sejumlah besar urin yang terasa manis, kelainan metabolis yang disebabkan oleh banyak faktor,
dengan simtoma berupa hiperglisemia kronis dan
gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, sebagai
akibat dari:
- defisiensi sekresi hormon insulin,
aktivitas insulin, atau keduanya
- defisiensi transporter glukosa.
- atau keduanya.

- Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang
secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa
hilangnya toleransi karbohidrat (Silvia. Anderson Price, 1995)
- Diabetes melitus adalah gangguan metabolik kronik
yang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol yang
dikarakteristikan dengan ketidak ade kuatan penggunaan insulin (Barbara
Engram; 1999, 532)
- Diabetes melitus adalah suatu penyakit kronik
yang komplek yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein dan
lemak dan berkembangnya komplikasi makro vaskuler, mikro vaskuler dan
neurologis (Barbara C. Long, 1996)
- Diabetes melitus (DM) adalah keadaan
hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolic akibat gangguan
hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi
pada membran basalis dalam pemeriksaan mikroskop electron
(Soeparman, Ilmu penyakit
dalam,
Jakarta, FKUI).
· Kesimpulan, Diabetes melitus
merupakan kelainan heterogen yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa
dalam darah disertai berbagai kelainan metabolik.
Diabetes Mellitus adalah penyakit yang mempengaruhi gula darah, hal ini
terjadi karena glukosa (gula sederhana) di dalam darah terlalu tinggi. Sehingga
tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan benar atau tidak sempurna. Dalam
kinerjanya, makanan setelah cenderung membuat glukosa darah meningkat dan akan
merangsang pankreas untuk memproduksi insulin. Insulin bergerak membuat gula ke
dalam sel untuk diubah menjadi energi atau sebagai cadangan energi. Namun, jika
terlalu banyak glukosa dalam darah sulit untuk membuat insulin bekerja dengan
baik. Hal ini dapat terjadi biasanya pada orang yang memiliki usia lebih dari
30 tahun atau lebih tua. Dengan kurangnya aktivitas yang mengeluarkan energi
dapat menjadi pemicu tumbuhnya penyakit mellitus.
B. ETIOLOGI
DIABETES
Penyebab
Diabetes Melitus berdasarkan klasifikasi menurut WHO tahun 1995 adalah :
a. DM Tipe I (IDDM : DM tergantung
insulin)
• Faktor genetik / herediter
Faktor
herediter menyebabkan timbulnya DM melalui kerentanan sel-sel beta terhadap
penghancuran oleh virus atau mempermudah perkembangan antibodi autoimun
melawan sel-sel beta, jadi mengarah pada penghancuran sel-sel beta.
•
Faktor infeksi virus
Berupa
infeksi virus coxakie dan Gondogen yang merupakan pemicu yang menentukan proses
autoimun pada individu yang peka secara genetik.
b. DM Tipe II (DM tidak
tergantung insulin = NIDDM)
•
Terjadi paling sering pada orang dewasa, dimana terjadi obesitas pada
individu obesitas dapat menurunkan jumlah resoptor insulin dari dalam sel
target insulin diseluruh tubuh. Jadi membuat insulin yang tersedia kurang
efektif dalam meningkatkan efek metabolik yang biasa. Faktor-faktor
resiko :
Ø
Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia
di atas 65 th).
Ø
Obesitas.
Ø
Riwayat keluarga.
c. DM Malnutrisi
• Fibro Calculous Pancreatic DM
(FCPD)
Terjadi
karena mengkonsumsi makanan rendah kalori dan rendah protein sehingga klasifikasi
pankreas melalui proses mekanik (Fibrosis) atau toksik (Cyanide) yang menyebabkan
sel-sel beta menjadi rusak.
• Protein Defisiensi Pancreatic
Diabetes Melitus (PDPD)
Karena kekurangan protein yang kronik menyebabkan hipofungsi sel Beta
pancreas.
d. DM Tipe Lain
• Penyakit pankreas seperti :
pancreatitis, Ca Pancreas dll
• Penyakit hormonal
Seperti :
Acromegali yang meningkat GH (growth hormon) yang merangsang sel-sel beta pankraas
yang menyebabkan sel-sel ini hiperaktif dan rusak
• Obat-obatan
• Obat-obatan
Bersifat
sitotoksin terhadap sel-sel seperti aloxan dan streptozerin yang
mengurangi produksi insulin seperti derifat thiazide, phenothiazine dll.
Menurut
banyak ahli beberapa faktor yang sering dianggap penyebab yaitu:
a. Faktor genetik
a. Faktor genetik
Riwayat keluarga
dengan diabetes : Pincus dan White berpendapat perbandingan keluarga yang
menderita diabetes mellitus dengan kesehatan keluarga sehat, ternyata angka
kesakitan keluarga yang menderita diabetes mellitus mencapai 8,33 % dan 5,33 %
bila dibandingkan dengan keluarga sehat yang memperlihatkan angka hanya 1,96 %.
b. Faktor non genetik
Ø
Infeksi
Virus dianggap sebagai “trigger” pada mereka yang sudah mempunyai predisposisi genetic terhadap diabetes mellitus.
Virus dianggap sebagai “trigger” pada mereka yang sudah mempunyai predisposisi genetic terhadap diabetes mellitus.
Ø
Nutrisi
a.)Obesitas dianggap menyebabkan resistensi terhadap insulin.
b.)Malnutrisi protein.
a.)Obesitas dianggap menyebabkan resistensi terhadap insulin.
b.)Malnutrisi protein.
Ø
c.)Alkohol, dianggap menambah resiko terjadinya
pankreatitis.
Ø
Stres
Stres berupa pembedahan, infark miokard, luka bakar dan emosi biasanya menyebabkan hyperglikemia sementara.
Stres berupa pembedahan, infark miokard, luka bakar dan emosi biasanya menyebabkan hyperglikemia sementara.
Ø
Hormonal Sindrom cushing karena
konsentrasi hidrokortison dalam darah tinggi, akromegali karena jumlah
somatotropin meninggi, feokromositoma karena konsentrasi glukagon dalam darah
tinggi, feokromositoma karena kadar katekolamin meningkat
C. KLASIFIKASI
a. Resiko rendah
Pemeriksaan
glukosa darah tidak diperlukan secara rutin apabila semua karakeristik berikut
ditemukan :
·
Berasal dari kelompok ethnic yang prevalensi diabetes
mellitus gestasionalnya rendah.
·
Tidak ada anggota keluarga dekat ( first-degree
relative) yang mengidap diabetes.
·
Usia kurang dari 25 tahun.
·
Berat sebelum hamil normal.
·
Tidak ada riwayat kelainan metabolisme glukosa.
·
Tidak memiliki riwayat obstri yang buruk.
b. Resiko
rata-rata
Pemeriksaan glukosa darah pada
minggu ke 24-28 dengan menggunakan salah satu dari berikut :
·
Resiko
rata-rata, Wanita keturunan hispanik, Afrika, Pribumi Amerika, Asia Selatan
atau Timur.
·
Resiko tinggi,
wanita yang jelas kegemukan,jelas meiliki riwayak diabetes tipe II pada anggota
keluarga, riawayat diabetes gestasional atau glukosuria.
c. Resiko
Tinggi
Lakukan pemeriksaan sesegera mungkin
: apabila diabetes gestasional tidak terdiagnosis, pemeriksaan glukosa darah
harus diulang pada minggu ke 24-28 atau setiap saat pasie memperlihatkan gejala
atau tanda yang mengarah ke hiperglikemia.(Metzger & Coustan.1998)
D. GAMBARAN KLINIS
Gejala yang lazim
terjadi, pada diabetes mellitus sebagai berikut :
a. Poliuri
(banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh
karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap
glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak menarik cairan
dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.
b. Polidipsi
(banyak minum)
Hal ini disebabkan
pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri, sehingga
untuk mengimbangi klien lebih banyak minum.
c. Polipagi (banyak makan)
c. Polipagi (banyak makan)
Hal ini disebabkan
karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar). Sehingga
untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun klien banyak makan,
tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah.
d. Berat
badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang. Hal
ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh
bersama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan
protein, karena tubuh terus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya akan
memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan
otot dan lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan akan tetap kurus.
e. Mata kabur
e. Mata kabur
Hal ini disebabkan oleh
gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) yang disebabkan karena
insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa, sehingga
menyebabkan pembentukan katarak.
f. Malaise
g. Kesemutan
pada ekstremitas
h. Infeksi
kulit dan pruritus
i. Timbul
gejala ketoasidosis & samnolen bila berat
E. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
a. Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan
gangguan sistem endokrin diabetes mellitus dilakukan mulai dari pengumpulan
data yang meliputi : biodata, riwayat kesehatan, keluhan utama, sifat keluhan,
riwayat kesehatan masa lalu, pemeriksaan fisik, pola kegiatan sehari-hari. Hal
yang perlu dikaji pada klien degan diabetes mellitus :
·
Aktivitas dan istirahat: Kelemahan,
susah berjalan/bergerak, kram otot, gangguan istirahat dan tidur,
tachicardi/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas dan koma.
· Sirkulasi: Riwayat
hipertensi, penyakit jantung seperti IMA, nyeri, kesemutan pada ekstremitas
bawah, luka yang sukar sembuh, kulit kering, merah, dan bola mata cekung.
·
Eliminasi: Poliuri,nocturi,
nyeri, rasa terbakar, diare, perut kembung dan pucat.
·
Nutrisi: Nausea,
vomitus, berat badan menurun, turgor kulit jelek, mual/muntah.
· Neurosensori: Sakit
kepala, menyatakan seperti mau muntah, kesemutan, lemah otot, disorientasi,
letargi, koma dan bingung.
·
Nyeri: Pembengkakan
perut, meringis.
·
Respirasi Tachipnea,
kussmaul, ronchi, wheezing dan sesak nafas.
·
Keamanan: Kulit
rusak, lesi/ulkus, menurunnya kekuatan umum.
· Seksualitas: Adanya peradangan
pada daerah vagina, serta orgasme menurun dan terjadi impoten pada pria.
b. Diagnosa
Berdasarkan pengkajian data
keperawatan yang sering terjadi berdasarkan teori, maka diagnosa keperawatan
yang mungkin muncul pada klien diabetes mellitus yaitu :
a. Gangguan
keseimbangan cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output yang berlebih.
b. Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin.
c. Resiko tinggi
terhadap infeksi berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah.
d. Resiko tinggi
terhadap persepsi sensori berhubungan dengan perubahan kimia endogen.
e. Kelelahan
berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik.
f. Ketidakberdayaan
berhubungan dengan penyakit progresif yang tidak dapat diobati
g. Kurang pengetahuan mengenai
penyakit berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.
c. Intervensi
Perencanaan
keperawatan adalah acuan tertulis yang terdiri dari berbagai intervensi
sehingga kebutuhan dasar klien terpenuhi. Tujuan tindakan keperawatan baik
tujuan umum maupun khusus dan penetapan kriteria dan standar penulis sesuaikan
dengan kondisi dan keadaan klien binaan dengan tetap memperhatikan klien binaan yang berpedoman untuk menetapkan intervensi seperti rencana
tindakan yang dibuat berorientasi pada pemecahan masalah, dalam tahap ini yang dilakukan yaitu membuat rencana sesuai dengan prioritas
masalah.
Diagnosa keperawatan I:
Gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output yang berlebih.
Tujuan: Masalah gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan
tubuh dapat teratasi.
Kriteria Hasi:
1) Tanda-tanda
vital normal.
2) Turgorkulit
elastis.
3) Kapilerirevil
kurang dari tiga detik.
4) Membran mukosa
lembab.
5) Haluan urin
tepat secara indivudu.
6) Kadar
elektrolit dalam batas normal.
Intervensi keperawatan:
a. Pantau
tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD.
Rasional: hipovolemi dapat di manifestasikan
oleh hipotensi dan takikardi.
b. Kaji nadi
perifer, pengisian kapiler, tugor kulit, dan membran mukosa.
Rasional: merupakan indikator
dari tingkat dehidraasi, atau volume sirkulasi yang adekuat.
c. Pantau masukan
daan pengeluaran, catat berat jenis urin.
Rasional: memberikan perkiraan
akan cairan pengganti fungsi ginjal dan keefektifan terapi yang diberikan.
d. Pertahankan
untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari
Rasional: mempertahankan hidrasi/
volume cairan.
e. Berikan terapi
cairan selama dengan indikasi, seperti normal salin atau setengah normal salin
dengan atau tanpa dextrosa.
Rasional: tipe dan jumlah dari
cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan dan respon pasien
secara individu.
f. Berikan belum
atau elektrolit lain melalui IV atau melalui oral sesuai indikasi
Rasional: Untuk mencegah
hipokolemia.
Diagnosa keperawatan II
Perubahhan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin.
Tujuan: Masalah perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
Kriteria Hasil:
1) Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya.
2) Mual dan muntah
hilang.
3) Nafsu makan bertambah.
4) Hasil
laboratorium menunjukan keadaan normal.
Intervensi keperawatan:
a. Timbang BB
setiap hari atau sesuai dengan indikasi.
Rasional: mengkaji
pemasukan makanan yang adekuat.
b. Auskultasi
bising usus.
Rasional:
hiperglikemi dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akan menurunkan
fungsi lambung.
c. Berikan makanan
cairan yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit.
Rasional: pemberian
makanan melalui oral lebih baik jika pasien sadar dengan fungsi
gastrointestinal baik.
d. Pantau
pemeriksaan laboratorium, seperti glukosa darah, aseton, PH, dan HCO3.
Rasional: gula darah akan
menurunkan perlahan dengan penggantian cairan dan terapi insulin terkontrol.
e. Lakukan konsul
dengan ahli diet.
Rasional: sangat bermanfaat dalam
perhitungan dan penyesuaian diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.
Diagnosa keperwatan III
Resiko tinggi terhadap infeksi
berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah.
Tujuan: Masalah resiko terhadap infeksi tidak terjadi.
Kriteria Hasil:
1) Tidak terdapat tanda-tanda
infeksi.
2) Personal higien
yang baik.
3) Perubahan gaya
hidup untuk mencegah infeksi.
Intervensi keperawatan:
1) Observasi
tanda-tanda infeksi dan peradangan.
Rasional: pasien mungkin masuk
dengan infeksi yang biasanya telah mencetuskan keadaan ketoaasidosis atau dapat
mengalami inveksi nosokomial.
2) Pertahankan teknik
aseptik pada prosedur invasif
Rasional: kadar glukosa yang
tinggi dalam darah akan menjadi media terbaik bagi pertumbuhan kuman.
3) Berikan
perawatan kulit dengan teratur
Rasional: Sirkulasi perifer bisa
terganggu yang menempatkan pasien pada peningkatan resiko terjadinya kerusakan
pada kulit.
4) Bantu pasien
untuk melakukan higiene oral.
Rasional: menurunkan terjadinya
penyakit mulut/gusi.
5) Lakukan
pemeriksaan kultur dan sensitifas sesuai dengan indikasi
Rasional: untuk mengidentifikasi
mikroorganisme sehingga dapat menentukan pemberian trapi antibiotik yang
terbaik.
6) Berikan
antibiotik yang sesuai.
Rasional: Penanganan awal dapat membantu mencegah tumbuhnya spesipi.
Diagnosa keperawatan IV
Resiko tinggi terhadap persepsi
sensori berhubungan dengan perubahan kimia endogen.
Tujuan: Tidak terjadi ganguan persepsi sensori.
Kriteria Hasil:
1) Mengeneli
keterbatasan diri
2) Orientasi baik
3) Mampu
mengidentifikasi sensori yang datang
Intervensi keperawatan:
1) Pantau tanda-tanda
vital dan status mental.
Rasional: Suhu yang
meningkat mempengaruhi fungsi mental.
2) Jadwalkan
intervensi keperawatan agar tidak menggangu istirahat klien.
Rasional: Meningkatkan
tidur, menurunkan rasa letih, dan dapat memperbaiki daya pikir.
3) Pelihara aktivitas rutin klien
sekonsisten mungkin, dorong klien untuk melakukan kegiatan sehari-hari sesuai kemampuannya.
Rasional: Mambantu klien
untuk mempertahankan orientasi pada lingkungannya.
4) Berikan tempat
tidur yang lembut.
Rasional: Meningkatkan rasa
nyaman dan menurunkan kemungkinan kerusakan kulit karena rasa panas.
5) Bantu klien dalam
ambulasi atau perubahan posisi.
Rasional: Meningkatkan
keamanan klien ketika rasa keseimbangan di pengaruhi.
6) Berikan pengobatan
sesuai dengan obat yang ditetukan untuk mengatasi DKA sesuai indikasi.
Rasional: Gangguan dalam
proses pikir terhadap aktifitas kejang biasanya hilang
bila keadaan hiper osmolaritas.
Diagnosa keperawatan V
Kelelahan berhubungan dengan
penurunan produksi energi metabolik.
Tujuan: Masalah intoleransi aktifitas dapat teratasi.
Kriteria Hasil:
1) Mengungkapkan
adanya peningkatan energi.
2) Menunjukan
perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktifitas yang diinginkan.
Intervensi keperawatan:
1) Diskusikan dengan
klien kebutuhan atas aktivitas.
Rasional: Pendidikan dapat
memberikan motivasi untuk meningkatkan motivasi, mekipun pasien mungkin masih
lemah.
2) Berikan aktivitas alternatif dengan periode istirahat yang cukup.
Rasional: Mencegah
kelelahan yang berlebihan.
3) Pantau nadi, frekuensi
pernafasan dan tekanan darah sebelum/sesudah
melakukan aktivitas.
Rasional: Mengindikasikan
tingkat aktivitas yang dapat di toleransi secara fisiologis.
4) Diskusikan cara
manghemat kalori selama berpindah tampat.
Rasional: Klien akan
dapat melakukan lebih banyak kegiatan.
5) Tingkatkan partisipasi
pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan yang dapat di
toleransi.
Rasional: Meningkatkan
kepercayaan diri/harga diri yang fositif yang sesuai tingkat aktivitas yang
dapat ditoleraansi pasien.
Diagnosa keperawatan VI
Ketidakberdayaan berhubungan
dengan penyakit progresif yang tidk dapat diobati.
Tujuan: Mampu mengidentifikasikan cara-cara sehat untuk menghadapi perasan.
Kriteria Hasil:
1) Dapat
mengekspresikan perasaan sebenarnya.
2) Mampu mengontrol
emosi.
3) Ikut
berpartisipasi dalam proses keperawatan untuk pembuatan keputusan.
Intervensi keperawatan:
1) Anjurkan kilen
untuk mangekspresikan perasannya.
Rasional: Mempermudah
dalam memecahkan masalah klien.
2) Akui normalitas
dari klien.
Rasional: Pengenalan
bahwa reaksi normal dapat membantu klien untuk memecahkan masalah dan mencapai
bantuan sesuai kebutuhan.
3) Kaji bagaimana
klien telah menangani masalahnya dimasa lalu.
Rasional: Mengetahui gaya hidup membantu untuk
menentukan kebutuhan kilen.
4) Anjurkan klien
dalam membuat keputusan sehubung dengan perawatannya
Rasional:
Mengkomunikasikan pada klien bahwa pengendalian dapat dilatih pada saat
perawatan dilakukan.
5) Berikan dukungan
pada klien untuk ikut berperan serta dalam perwatan diri
sendiri.
Rasional:
Meningkatkan perasaan kontrol terhadap situsi.
Diagnosa keperawatan VII
Kurang pengetahuan mengenai
penyakit barhubungan dengan kurangnya sumber informasi.
Tujuan: Masalah kurangnya pengetahuan dapat teratasi
Kriteria Hasil:
1) Menyatakan
pemahaman tentang penyakit.
2) Mampu
mengidentifikasi tanda dan gejala dengan proses penyakit.
3) Mampu melakukan prosedur keperawatan dengan benar.
4) Mampu melakukan perubahan gaya hidup.
Intervensi keperawatan:
1) Ciptakan
lingkungan saling percaya dengan mendengarkan penuh perhatian dan selalu ada
buat pasien
Rasional: menanggapi dan
memperhatikan perlu diciptakan sebelum pasien bersedia mengambil bagian proses
belajar.
2) Bekerja dengan pasien
dalam menata tujuan belajar yang diharapkan
Raional: partisipasi dengan
perencanaan meningkatkan antusias dan kerja sama pasien dengan prinsip-prinsip
yang di pelajari.
3) Pilih
berbagai strategi belajar seperti teknik demonstrasi
Rasional: penggunaan cara yang
berbeda tentang mengakses informasi meningkatkan penyerapan pada individu yang belajar.
4) Diskusikan
topik-topik utama, seperti apakah kedar glukosa normal itu dan bagaimana hal
tersebut dibandingkan dengan kadar gula darah pasien, tipe DM yang dialami pasien .
Rasional: memberikan pengatahuan
dasar di mana pasien dapat membuat pertimbangan dalam memilih gaya hidup.
d. Implementasi
Implementasi
adalah tindakan keperawatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan rencana
tindakan yang telah disusun. Setiap tindakan keperawatan yang dilakukan dicatat
dalam pencatatan keperawatan agar tindakan
keperawatan terhadap klien berlanjut. Prinsip dalam melakukan tindakan
keperawatan yaitu cara pendekatan pada klien efektif, teknik komunikasi
teraupetik serta penjalasan untuk setiap tindakan yang diberikan kepada klien.
Dalam melakukan
tindakan keperawatan menggunakan tiga tahap yaitu independent, dependent,
interdependent. Tindakan keperawatan secara independen adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa
petunjuk dan perintah dokter atau tenaga kesehatan lainnya, kemudian dependent adalah tindakan yang
sehubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan medis. Sedangkan interdependent adalah tindakan
keperawatn yang menjelaskan suatu kegiatan yang memerlukan suatu kerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya. Misalnya tenaga sosial,
ahli gizi dan dokter. Keterampilan yang harus dimiliki perawat dalam
melaksanakan tindakn keperawatan yaitu
kognitif dan psikomotor (suprajitno,
2004).
e. Evaluasi
Evaluasi adalah
tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan
seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah
berhasil dicapai kemungkinan terjadi
pada tahap evaluasi proses dan evaluasi hasil.
Evaluasi proses
adalah yang dilaksanaakan untuk membantu keefektifan terhadap tindakan.
Sedangkan evaluasi yang dilakukan pada tahap akhir tindakan keperawatan secara
keseluruhan sesuia dengan waktu yang ada pada tujuan.
Disamping itu
juga evaluasi adalah merupakan kegiatan yang merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil implemntasi dengan kriteria standar yang telah ditetapkan untuk
melihat keberhasilan. Bila evaluasi tidak berhasil atau berhasil sebagian, perlu disusun rencana keperawatan yang baru.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Diabetes
Mellitus adalah
penyakit yang mempengaruhi gula darah, hal ini terjadi karena glukosa (gula
sederhana) di dalam darah terlalu tinggi. Sehingga tubuh tidak dapat
menggunakan insulin dengan benar atau tidak sempurna. Dalam kinerjanya, makanan
setelah cenderung membuat glukosa darah meningkat dan akan merangsang pankreas
untuk memproduksi insulin. Insulin bergerak membuat gula ke dalam sel untuk
diubah menjadi energi atau sebagai cadangan energi. Namun, jika terlalu banyak
glukosa dalam darah sulit untuk membuat insulin bekerja dengan baik. Hal ini
dapat terjadi biasanya pada orang yang memiliki usia lebih dari 30 tahun atau
lebih tua. Dengan kurangnya aktivitas yang mengeluarkan energi dapat menjadi pemicu
tumbuhnya penyakit mellitus.
Berikut adalah gambaran klinis
penyakit diabetes melitus.
a. Poliuri
(banyak kencing)
b. Polidipsi
(banyak minum)
c. Polipagi
(banyak makan)
d. Berat
badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang.
e. Mata kabur
f. Malaise
g. Kesemutan
pada ekstremitas
h. Infeksi
kulit dan pruritus
i. Timbul
gejala ketoasidosis & samnolen bila berat
B. SARAN
Bagi
siapapun untuk lebih mengatur pola hidup yang sehat agar terhindar dari
penyakit diabetes melitus dan komplikasi yang bisa ditimbulkan oleh penyakit
ini.