Kamis, 24 Juli 2014

Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus

BAB I
PENDAHULUAN

A.        LATAR BELAKANG
Orang lazim menyebut Diabetes Melitus sebagai penyakit gula atau kencing manis. Diabetes mellitus atau penyakit gula atau kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi normal (hiperglikemia) akibat tubuh kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Absolut berarti tidak ada insulin sama sekali sedangkan relatif berarti jumlahnya cukup/memang sedikit tinggi atau daya kerjanya kurang. Hormon Insulin dibuat dalam pancreas.
Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang berdampak pada produktivitas dan dapat menurunkan Sumber Daya Manusia. Penyakit ini tidak hanya berpengaruh secara individu, tetapi sistem kesehatan suatu negara.
Seseorang dikatakan menderita Diabetes jika kadar glukosa dalam darahnya di atas 120mg/dl (dalam kondisi berpuasa) dan di atas 200mg/dl (dua jam setelah makan). Tanda utama lain seseorang menderita Diabetes adalah air seninya mengandung gula. Karena itu,penyakit ini di sebut juga kencing manis atau penyakit gula. Penderita Diabetes disebut Diabetesi.
Penderita penyakit diabetes mellitus dapat meninggal karena penyakit yang dideritanya atau karena komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit ini, misalnya penyakit ginjal, gangguan jantung dan gangguan saraf. Penyebab diabetes mellitus dapat disebabkan oleh berbagai hal, dan juga terdapat berbagai macam tipe diabetes mellitus. Ada beberapa gejala yang ditiimbulkan bagi penderita diabetes mellitus, serta cara mengobatinya. Kesemuanya akan dibahas di dalam makalah ini.

B.        TUJUAN
           Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam tentang penyakit Diabets Melitus, dan untuk memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Keperawatan Sistem Endokrin.


BAB II
PEMBAHASAN

A.        DEFINISI DIABETES MELITUS
Diabetes adalah kata Yunani yang berarti mengalirkan/mengalihkan (siphon). Mellitus adalah kata Latin untuk madu, atau gula. Diabetes mellitus adalah penyakit di mana seseorang mengeluarkan/mengalirkan sejumlah besar urin yang terasa manis, kelainan metabolis yang disebabkan oleh banyak faktor, dengan simtoma berupa hiperglisemia kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, sebagai akibat dari:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUupNqHeP1KKMiPuL0-SrGIoU43eV69SS5nl-s-E1f7FSCtUCDqyd2jod6hpo8VGd1MeBqfBGtGwZ7VUqxg_gCnGGS99GYpAXKFbiUfvLj1O4KszE0aMu4jsP8R1IOaGiguCbYR0n-OKq1/s1600/diabetes003.jpg
  • Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat (Silvia. Anderson Price, 1995)
  • Diabetes melitus adalah gangguan metabolik kronik yang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol yang dikarakteristikan dengan ketidak ade kuatan penggunaan insulin (Barbara Engram; 1999, 532)
  • Diabetes melitus adalah suatu penyakit kronik yang komplek yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak dan berkembangnya komplikasi makro vaskuler, mikro vaskuler dan neurologis (Barbara C. Long, 1996)
  • Diabetes melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolic akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi pada mata, ginjal,  saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan mikroskop electron (Soeparman, Ilmu penyakit dalam, Jakarta, FKUI).
·                               Kesimpulan, Diabetes melitus merupakan kelainan heterogen yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah disertai berbagai kelainan metabolik.
Diabetes Mellitus adalah penyakit yang mempengaruhi gula darah, hal ini terjadi karena glukosa (gula sederhana) di dalam darah terlalu tinggi. Sehingga tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan benar atau tidak sempurna. Dalam kinerjanya, makanan setelah cenderung membuat glukosa darah meningkat dan akan merangsang pankreas untuk memproduksi insulin. Insulin bergerak membuat gula ke dalam sel untuk diubah menjadi energi atau sebagai cadangan energi. Namun, jika terlalu banyak glukosa dalam darah sulit untuk membuat insulin bekerja dengan baik. Hal ini dapat terjadi biasanya pada orang yang memiliki usia lebih dari 30 tahun atau lebih tua. Dengan kurangnya aktivitas yang mengeluarkan energi dapat menjadi pemicu tumbuhnya penyakit mellitus.
B.        ETIOLOGI DIABETES
Penyebab Diabetes Melitus berdasarkan klasifikasi menurut WHO tahun 1995 adalah :
a.         DM Tipe I (IDDM : DM tergantung insulin)
•      Faktor genetik / herediter
Faktor herediter menyebabkan timbulnya DM melalui kerentanan sel-sel beta terhadap penghancuran oleh virus atau mempermudah perkembangan antibodi  autoimun melawan sel-sel beta, jadi mengarah pada penghancuran sel-sel beta.
         Faktor infeksi virus
Berupa infeksi virus coxakie dan Gondogen yang merupakan pemicu yang menentukan proses autoimun pada individu yang peka secara genetik.
b.         DM Tipe II (DM tidak tergantung insulin = NIDDM)
•    Terjadi paling sering pada orang dewasa, dimana terjadi obesitas pada individu obesitas dapat menurunkan jumlah resoptor insulin dari dalam sel target insulin diseluruh tubuh. Jadi membuat insulin yang tersedia kurang efektif dalam meningkatkan efek metabolik yang biasa. Faktor-faktor resiko :
Ø  Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th).
Ø  Obesitas.
Ø  Riwayat keluarga.
c.         DM Malnutrisi
•   Fibro Calculous Pancreatic DM (FCPD)
Terjadi karena mengkonsumsi makanan rendah kalori dan rendah protein sehingga klasifikasi pankreas melalui proses mekanik (Fibrosis) atau toksik (Cyanide) yang menyebabkan sel-sel beta menjadi rusak.
•   Protein Defisiensi Pancreatic Diabetes Melitus (PDPD)
Karena kekurangan protein yang kronik menyebabkan hipofungsi sel Beta pancreas.
d.         DM Tipe Lain
•   Penyakit pankreas seperti : pancreatitis, Ca Pancreas dll
•   Penyakit hormonal
Seperti : Acromegali yang meningkat GH (growth hormon) yang merangsang sel-sel beta pankraas yang menyebabkan sel-sel ini hiperaktif dan rusak
•    Obat-obatan
Bersifat sitotoksin terhadap sel-sel  seperti aloxan dan streptozerin yang mengurangi produksi insulin seperti derifat thiazide, phenothiazine dll.
Menurut banyak ahli beberapa faktor yang sering dianggap penyebab yaitu:
a.         Faktor genetik
Riwayat keluarga dengan diabetes : Pincus dan White berpendapat perbandingan keluarga yang menderita diabetes mellitus dengan kesehatan keluarga sehat, ternyata angka kesakitan keluarga yang menderita diabetes mellitus mencapai 8,33 % dan 5,33 % bila dibandingkan dengan keluarga sehat yang memperlihatkan angka hanya 1,96 %.
b.         Faktor non genetik
Ø  Infeksi
Virus dianggap sebagai “trigger” pada mereka yang sudah mempunyai predisposisi genetic terhadap diabetes mellitus.
Ø  Nutrisi
a.)Obesitas dianggap menyebabkan resistensi terhadap insulin.
b.)Malnutrisi protein.
Ø  c.)Alkohol, dianggap menambah resiko terjadinya pankreatitis.
Ø  Stres
Stres berupa pembedahan, infark miokard, luka bakar dan emosi biasanya menyebabkan hyperglikemia sementara.
Ø  Hormonal Sindrom cushing karena konsentrasi hidrokortison dalam darah tinggi, akromegali karena jumlah somatotropin meninggi, feokromositoma karena konsentrasi glukagon dalam darah tinggi, feokromositoma karena kadar katekolamin meningkat
C.        KLASIFIKASI
a.         Resiko rendah
Pemeriksaan glukosa darah tidak diperlukan secara rutin apabila semua karakeristik berikut ditemukan :
·         Berasal dari kelompok ethnic yang prevalensi diabetes mellitus gestasionalnya rendah.
·         Tidak ada anggota keluarga dekat ( first-degree relative) yang mengidap diabetes.
·         Usia kurang dari 25 tahun.
·         Berat sebelum hamil normal.
·         Tidak ada riwayat kelainan metabolisme glukosa.
·         Tidak memiliki riwayat obstri yang buruk.
b.         Resiko rata-rata
Pemeriksaan glukosa darah pada minggu ke 24-28 dengan menggunakan salah satu dari berikut :
·         Resiko rata-rata, Wanita keturunan hispanik, Afrika, Pribumi Amerika, Asia Selatan atau Timur.
·         Resiko tinggi, wanita yang jelas kegemukan,jelas meiliki riwayak diabetes tipe II pada anggota keluarga, riawayat diabetes gestasional atau glukosuria.
c.         Resiko Tinggi
Lakukan pemeriksaan sesegera mungkin : apabila diabetes gestasional tidak terdiagnosis, pemeriksaan glukosa darah harus diulang pada minggu ke 24-28 atau setiap saat pasie memperlihatkan gejala atau tanda yang mengarah ke hiperglikemia.(Metzger & Coustan.1998)

D.        GAMBARAN KLINIS
Gejala yang lazim terjadi, pada diabetes mellitus sebagai berikut :
a.         Poliuri (banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.
b.         Polidipsi (banyak minum)
Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum.
c.         Polipagi (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar). Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun klien banyak makan, tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah.
d.        Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang. Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh bersama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein, karena tubuh terus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan akan tetap kurus.
e.         Mata kabur
Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) yang disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa, sehingga menyebabkan pembentukan katarak.
f.          Malaise
g.         Kesemutan pada ekstremitas
h.         Infeksi kulit dan pruritus
i.          Timbul gejala ketoasidosis & samnolen bila berat

E.        KONSEP DASAR KEPERAWATAN
a.         Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan gangguan sistem endokrin diabetes mellitus dilakukan mulai dari pengumpulan data yang meliputi : biodata, riwayat kesehatan, keluhan utama, sifat keluhan, riwayat kesehatan masa lalu, pemeriksaan fisik, pola kegiatan sehari-hari. Hal yang perlu dikaji pada klien degan diabetes mellitus :
·         Aktivitas dan istirahat: Kelemahan, susah berjalan/bergerak, kram otot, gangguan istirahat dan tidur, tachicardi/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas dan koma.
·    Sirkulasi: Riwayat hipertensi, penyakit jantung seperti IMA, nyeri, kesemutan pada ekstremitas bawah, luka yang sukar sembuh, kulit kering, merah, dan bola mata cekung.
·         Eliminasi: Poliuri,nocturi, nyeri, rasa terbakar, diare, perut kembung dan pucat.
·         Nutrisi: Nausea, vomitus, berat badan menurun, turgor kulit jelek, mual/muntah.
·      Neurosensori: Sakit kepala, menyatakan seperti mau muntah, kesemutan, lemah otot, disorientasi, letargi, koma dan bingung.
·         Nyeri: Pembengkakan perut, meringis.
·         Respirasi Tachipnea, kussmaul, ronchi, wheezing dan sesak nafas.
·         Keamanan: Kulit rusak, lesi/ulkus, menurunnya kekuatan umum.
·     Seksualitas: Adanya peradangan pada daerah vagina, serta orgasme menurun dan terjadi impoten pada pria.
b.         Diagnosa
Berdasarkan pengkajian data keperawatan yang sering terjadi berdasarkan teori, maka diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien diabetes mellitus yaitu :
a.     Gangguan keseimbangan cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output yang berlebih.
b.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin.
c.      Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah.
d.      Resiko tinggi terhadap persepsi sensori berhubungan dengan perubahan kimia endogen.
e.       Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik.
f.       Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit progresif yang tidak dapat diobati
g.       Kurang pengetahuan mengenai penyakit berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.
c.         Intervensi
Perencanaan keperawatan adalah acuan tertulis yang terdiri dari berbagai intervensi sehingga kebutuhan dasar klien terpenuhi. Tujuan tindakan keperawatan baik tujuan umum maupun khusus dan penetapan kriteria dan standar penulis sesuaikan dengan kondisi dan keadaan klien binaan dengan tetap memperhatikan klien binaan yang berpedoman untuk menetapkan intervensi seperti rencana tindakan yang dibuat berorientasi pada pemecahan masalah, dalam tahap ini yang dilakukan yaitu membuat rencana sesuai dengan prioritas masalah.
Diagnosa keperawatan  I:
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output yang berlebih.
Tujuan: Masalah gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh dapat teratasi.
Kriteria Hasi:
1)      Tanda-tanda vital normal.
2)      Turgorkulit elastis.
3)      Kapilerirevil kurang dari tiga detik.
4)      Membran mukosa lembab.
5)      Haluan urin tepat secara indivudu.
6)      Kadar elektrolit dalam batas normal.
Intervensi keperawatan:
a.       Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD.
Rasional: hipovolemi dapat di manifestasikan oleh hipotensi dan takikardi.
b.      Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, tugor kulit, dan membran mukosa.
Rasional: merupakan indikator dari tingkat dehidraasi, atau volume sirkulasi yang adekuat.
c.       Pantau masukan daan pengeluaran, catat berat jenis urin.
Rasional: memberikan perkiraan akan cairan pengganti fungsi ginjal dan keefektifan terapi yang diberikan.
d.      Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari
Rasional: mempertahankan hidrasi/ volume cairan.
e.       Berikan terapi cairan selama dengan indikasi, seperti normal salin atau setengah normal salin dengan atau tanpa dextrosa.
Rasional: tipe dan jumlah dari cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan dan respon pasien secara individu.
f.       Berikan belum atau elektrolit lain melalui IV atau melalui oral sesuai indikasi
Rasional: Untuk mencegah hipokolemia.
Diagnosa keperawatan  II
Perubahhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin.
Tujuan: Masalah perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
Kriteria Hasil:
1)      Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya.
2)      Mual dan muntah hilang.
3)      Nafsu makan bertambah.
4)      Hasil laboratorium menunjukan keadaan normal.
Intervensi keperawatan:
a.       Timbang BB setiap hari atau sesuai dengan indikasi.
Rasional:   mengkaji pemasukan makanan yang adekuat.
b.      Auskultasi bising usus.
Rasional:   hiperglikemi dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akan menurunkan fungsi lambung.
c.       Berikan makanan cairan yang mengandung zat makanan (nutrien) dan  elektrolit.
Rasional:   pemberian makanan melalui oral lebih baik jika pasien sadar dengan fungsi gastrointestinal baik.
d.      Pantau pemeriksaan laboratorium, seperti glukosa darah, aseton, PH, dan HCO3.
Rasional: gula darah akan menurunkan perlahan dengan penggantian cairan dan terapi insulin terkontrol.
e.       Lakukan konsul dengan ahli diet.
Rasional: sangat bermanfaat dalam perhitungan dan penyesuaian diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.
Diagnosa keperwatan  III
Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah.
Tujuan: Masalah resiko terhadap infeksi tidak terjadi.
Kriteria Hasil:
1)      Tidak terdapat tanda-tanda infeksi.
2)   Personal higien yang baik.
3)   Perubahan gaya hidup untuk mencegah infeksi.
Intervensi keperawatan:
1)      Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan.
Rasional: pasien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya telah mencetuskan keadaan ketoaasidosis atau dapat mengalami inveksi nosokomial.
2)      Pertahankan teknik aseptik pada prosedur invasif
Rasional: kadar glukosa yang tinggi dalam darah akan menjadi media terbaik bagi pertumbuhan kuman.
3)      Berikan perawatan kulit dengan teratur
Rasional: Sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan pasien pada peningkatan resiko terjadinya kerusakan pada kulit.
4)      Bantu pasien untuk melakukan higiene oral.
Rasional: menurunkan terjadinya penyakit mulut/gusi.
5)      Lakukan pemeriksaan kultur dan sensitifas sesuai dengan indikasi
Rasional: untuk mengidentifikasi mikroorganisme sehingga dapat menentukan pemberian trapi antibiotik yang terbaik.
6)      Berikan antibiotik yang sesuai.
Rasional: Penanganan awal dapat membantu mencegah tumbuhnya spesipi.
Diagnosa keperawatan  IV
Resiko tinggi terhadap persepsi sensori berhubungan dengan perubahan kimia endogen.
Tujuan: Tidak terjadi ganguan persepsi sensori.
Kriteria Hasil:
1)   Mengeneli keterbatasan diri   
2)   Orientasi baik
3)   Mampu mengidentifikasi sensori yang datang
Intervensi keperawatan:
1)   Pantau tanda-tanda vital dan status mental.
Rasional:  Suhu yang meningkat mempengaruhi fungsi mental.
2)   Jadwalkan intervensi keperawatan agar tidak menggangu istirahat klien.
Rasional:  Meningkatkan tidur, menurunkan rasa letih, dan dapat memperbaiki daya pikir.
3) Pelihara aktivitas rutin klien sekonsisten mungkin, dorong klien untuk melakukan kegiatan sehari-hari sesuai kemampuannya.
Rasional:  Mambantu klien untuk mempertahankan orientasi pada lingkungannya.
4)   Berikan tempat tidur yang lembut.
Rasional:  Meningkatkan rasa nyaman dan menurunkan kemungkinan kerusakan kulit karena rasa panas.
5)   Bantu klien dalam ambulasi atau perubahan posisi.
Rasional:  Meningkatkan keamanan klien ketika rasa keseimbangan di pengaruhi.
6)   Berikan pengobatan sesuai dengan obat yang ditetukan untuk mengatasi DKA sesuai indikasi.
Rasional:  Gangguan dalam proses pikir terhadap aktifitas kejang biasanya hilang bila keadaan hiper osmolaritas.
Diagnosa keperawatan  V
Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik.
Tujuan: Masalah intoleransi aktifitas dapat teratasi.
Kriteria Hasil:
1)      Mengungkapkan adanya peningkatan energi.
2)      Menunjukan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktifitas yang diinginkan.
Intervensi keperawatan:
1)   Diskusikan dengan klien kebutuhan atas aktivitas.
Rasional:   Pendidikan dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan motivasi, mekipun pasien mungkin masih lemah.
2)   Berikan aktivitas alternatif dengan periode istirahat yang cukup.
Rasional:   Mencegah kelelahan yang berlebihan.
3)   Pantau nadi, frekuensi pernafasan dan tekanan darah sebelum/sesudah      melakukan aktivitas.
Rasional:   Mengindikasikan tingkat aktivitas yang dapat di toleransi secara fisiologis.
4)   Diskusikan cara manghemat kalori selama berpindah tampat.
Rasional:    Klien akan dapat melakukan lebih banyak kegiatan.
5)   Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan yang dapat di toleransi.
Rasional:   Meningkatkan kepercayaan diri/harga diri yang fositif yang sesuai tingkat aktivitas yang dapat ditoleraansi pasien.
Diagnosa keperawatan  VI
Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit progresif yang tidk dapat diobati.
Tujuan: Mampu mengidentifikasikan cara-cara sehat untuk menghadapi perasan.
Kriteria Hasil:
1)   Dapat mengekspresikan perasaan sebenarnya.
2)   Mampu mengontrol emosi.
3)   Ikut berpartisipasi dalam proses keperawatan untuk pembuatan keputusan.
Intervensi keperawatan:
1)   Anjurkan kilen untuk mangekspresikan perasannya.
Rasional:   Mempermudah dalam memecahkan masalah klien.
2)   Akui normalitas dari klien.
Rasional:   Pengenalan bahwa reaksi normal dapat membantu klien untuk memecahkan masalah dan mencapai bantuan sesuai kebutuhan.
3)   Kaji bagaimana klien telah menangani masalahnya dimasa lalu.
Rasional:   Mengetahui gaya hidup membantu untuk menentukan kebutuhan kilen.
4)   Anjurkan klien dalam membuat keputusan sehubung dengan perawatannya
Rasional:   Mengkomunikasikan pada klien bahwa pengendalian dapat dilatih pada saat perawatan dilakukan.
5)   Berikan dukungan pada klien untuk ikut berperan serta dalam perwatan diri sendiri.
Rasional:   Meningkatkan perasaan kontrol terhadap situsi.
Diagnosa keperawatan  VII
Kurang pengetahuan mengenai penyakit barhubungan dengan kurangnya sumber informasi.
Tujuan: Masalah kurangnya pengetahuan dapat teratasi
Kriteria Hasil:
1)   Menyatakan pemahaman tentang penyakit.
2)   Mampu mengidentifikasi tanda dan gejala dengan proses penyakit.
3)   Mampu melakukan prosedur keperawatan dengan benar.
4)   Mampu melakukan perubahan gaya hidup.
Intervensi keperawatan:
1)   Ciptakan lingkungan saling percaya dengan mendengarkan penuh perhatian dan selalu ada buat pasien
Rasional: menanggapi dan memperhatikan perlu diciptakan sebelum pasien bersedia mengambil bagian proses belajar.
2)   Bekerja dengan pasien dalam menata tujuan belajar yang diharapkan
Raional: partisipasi dengan perencanaan meningkatkan antusias dan kerja sama pasien dengan prinsip-prinsip yang di pelajari.
3)   Pilih berbagai  strategi belajar seperti teknik demonstrasi
Rasional: penggunaan cara yang berbeda tentang mengakses informasi meningkatkan penyerapan pada individu yang belajar.
4)   Diskusikan topik-topik utama, seperti apakah kedar glukosa normal itu dan bagaimana hal tersebut dibandingkan dengan kadar gula darah pasien, tipe DM yang dialami pasien .
Rasional: memberikan pengatahuan dasar di mana pasien dapat membuat pertimbangan dalam memilih gaya hidup.

d.         Implementasi
Implementasi adalah tindakan keperawatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan rencana tindakan yang telah disusun. Setiap tindakan keperawatan yang dilakukan dicatat dalam pencatatan keperawatan agar tindakan keperawatan terhadap klien berlanjut. Prinsip dalam melakukan tindakan keperawatan yaitu cara pendekatan pada klien efektif, teknik komunikasi teraupetik serta penjalasan untuk setiap tindakan yang diberikan kepada klien.
Dalam melakukan tindakan keperawatan menggunakan tiga tahap yaitu independent, dependent, interdependent. Tindakan keperawatan secara independen adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk dan perintah dokter atau tenaga kesehatan lainnya, kemudian dependent adalah tindakan yang sehubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan medis. Sedangkan interdependent adalah tindakan keperawatn yang menjelaskan suatu kegiatan yang memerlukan suatu kerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya. Misalnya tenaga sosial, ahli gizi dan dokter. Keterampilan yang harus dimiliki perawat dalam melaksanakan tindakn keperawatan yaitu kognitif dan psikomotor (suprajitno, 2004).

e.         Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai kemungkinan terjadi pada tahap evaluasi proses dan evaluasi hasil.
Evaluasi proses adalah yang dilaksanaakan untuk membantu keefektifan terhadap tindakan. Sedangkan evaluasi yang dilakukan pada tahap akhir tindakan keperawatan secara keseluruhan sesuia dengan waktu yang ada pada tujuan.
Disamping itu juga evaluasi adalah merupakan kegiatan yang merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil implemntasi dengan kriteria standar yang telah ditetapkan untuk melihat keberhasilan. Bila evaluasi tidak berhasil atau berhasil sebagian, perlu disusun rencana keperawatan yang baru.









BAB III
PENUTUP

A.        KESIMPULAN
Diabetes Mellitus adalah penyakit yang mempengaruhi gula darah, hal ini terjadi karena glukosa (gula sederhana) di dalam darah terlalu tinggi. Sehingga tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan benar atau tidak sempurna. Dalam kinerjanya, makanan setelah cenderung membuat glukosa darah meningkat dan akan merangsang pankreas untuk memproduksi insulin. Insulin bergerak membuat gula ke dalam sel untuk diubah menjadi energi atau sebagai cadangan energi. Namun, jika terlalu banyak glukosa dalam darah sulit untuk membuat insulin bekerja dengan baik. Hal ini dapat terjadi biasanya pada orang yang memiliki usia lebih dari 30 tahun atau lebih tua. Dengan kurangnya aktivitas yang mengeluarkan energi dapat menjadi pemicu tumbuhnya penyakit mellitus.
Berikut adalah gambaran klinis penyakit diabetes melitus.
a.         Poliuri (banyak kencing)
b.         Polidipsi (banyak minum)
c.         Polipagi (banyak makan)
d.         Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang.
 e.        Mata kabur
f.          Malaise
g.         Kesemutan pada ekstremitas
h.         Infeksi kulit dan pruritus
i.          Timbul gejala ketoasidosis & samnolen bila berat
B.        SARAN

            Bagi siapapun untuk lebih mengatur pola hidup yang sehat agar terhindar dari penyakit diabetes melitus dan komplikasi yang bisa ditimbulkan oleh penyakit ini.